Benaya Harobu adalah salah satu alumni Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang yang kini berkiprah sebagai jurnalis dan filmmaker. Namanya semakin dikenal setelah terpilih menjadi salah satu peserta Ekspedisi Indonesia Baru, sebuah perjalanan keliling nusantara selama 424 hari untuk mendokumentasikan isu-isu penting di berbagai daerah. Perjalanan panjang itu bukan hanya membawanya bertemu dengan ragam budaya dan persoalan masyarakat, tetapi juga mengasahnya menjadi jurnalis yang lebih peka dan tangguh.
Bagi Benaya, kuliah di Ilmu Komunikasi Unitri bukan sekadar proses belajar, tetapi juga perjalanan menemukan jati diri. Ia masih mengingat jelas bagaimana keterbatasan fasilitas justru melatih dirinya untuk lebih kreatif. “Waktu itu, ketika alat-alat terbatas, saya dan teman-teman banyak menemukan cara sendiri untuk berkarya. Itu jadi pengalaman yang paling berkesan, apalagi dosen-dosen di Ilmu Komunikasi Unitri sangat suportif dan mendukung proses kreatif saya. Bagi saya, Unitri itu seperti rumah,” kenangnya.
Perjalanan Benaya di dunia jurnalistik membawanya pada pengalaman luar biasa. Tahun 2022, ia mengikuti audisi Ekspedisi Indonesia Baru, sebuah perjalanan 424 hari mengelilingi Indonesia untuk mendokumentasikan berbagai isu penting. Saat itu, ia bekerja sebagai jurnalis di Agropolitan TV. Kesempatan itu datang, dan tanpa ragu ia mengambilnya. “Waktu itu saya masih bekerja di Agropolitan TV sebagai jurnalis TV, lalu kesempatan itu datang dan saya mengambil kesempatan itu dan keterima,” ujarnya.
Selama ekspedisi, Benaya berkesempatan meliput isu-isu yang sebelumnya jauh dari pengalamannya. Seperti isu pertanian, kelautan, dan banyak hal lain yang belum pernah diliput sebelumnya. Namun, perjalanan itu tentu tidak tanpa tantangan. Menurutnya, salah satu hal tersulit adalah menyesuaikan ritme liputan dan memperdalam isu yang masih baru baginya. “Menyesuaikan ritme liputan karena saya termasuk baru waktu itu, harus banyak baca untuk mendalami suatu isu, jadi itu tantangan yang menarik. Dan satu lagi bahasa-bahasa yang berbeda di setiap daerah di Indonesia,” katanya.
Nilai-nilai yang ia dapatkan selama kuliah masih terasa hingga kini. Disiplin adalah hal yang paling membekas. “Sejak kuliah, saya dikenal teman-teman sebagai orang yang produktif. Itu yang saya bawa sampai sekarang di dunia kerja,” tuturnya.
Tidak hanya menulis, Benaya juga memilih film sebagai medium bercerita. Baginya, film mampu menyampaikan ide dan inspirasi dengan cara yang lebih kuat. “Kalau hanya menulis, sulit mengajak orang berpikir. Makanya saya dan teman-teman mencoba menjadikan film sebagai media menyampaikan masalah-masalah di berbagai tempat. Sejak kuliah saya memang aktif bikin film di Flobamora Studio, jadi itu yang mendorong saya terus berkarya lewat film,” jelasnya.
Kepada teman-teman mahasiswa Ilmu Komunikasi Unitri, ia menitipkan pesan yang sederhana namun memiliki makna yang cukup dalam: tetap berkarya dengan karakter masing-masing. “Nggak perlu bergantung pada karya orang lain, berkaryalah sesuai kapasitas teman-teman. Intinya cuma satu: tetap produktif. Karya yang baik itu lahir dari karya yang jelek-jelek dulu. Jadi jangan tunggu hasil bagus, tapi perbanyak dulu karya, nanti kualitas akan mengikuti kuantitas,” pesannya menutup percakapan. (Inal)




